Cara Mengadili Pembunuh

Cara Mengadili Pembunuh

Sebulan lalu semenjak kecelakaan itu menimpa seorang peminta-minta, zoro kembali ke tempat kejadian perkara. Kasusnya sempat heboh di media, sosial maupun tv nasional, yang mana hampir selama dua minggu meliput peristiwa naas di tempat Zoro berada sekarang. Media mengejar berita ibu paruh baya tersebut bukan untuk menuntut keadilan untuknya, toh keadilan sudah mati di negeri ini, tetapi untuk memuaskan minat konsumen berita terhadap pelaku. Benar sekali! Pelakunya bukan orang biasa, ya kalau pelakunya tukang ojek ngapain diliput. Orang ini adalah anak pejabat paling penting sekaligus berpengaruh di wilayah selatan. Kehidupan pribadinya banyak disorot media lantaran kebiasaan memamerkan kekayaan yang tentu saja bukan milik dia.

Sponsored links

Beberapa jam setelah kasus ini mencuat ke publik, banyak media ikut mengambil bagian dalam meliput anak pejabat ini. Semula dari tkp, di sana sebagian kecil orang mengaku diri sebagai saksi mata dan saksi telinga. Bapak berkumis tipis namun pekat bersaksi kalau ibu peminta-minta itu memotong jalan mobil si anak pejabat. Seorang lain, bapak-bapak berperawakan kurus hampir menyisakan tulang saja mengatakan hal yang hampir serupa. “Ibunya itu ga liat-liat jalan pak, akhirnya ketabrak.” Jelasnya dengan mata bulat ke peliput. Saksi telinga satunya justru mendengar sesuatu yang lain. Sesaat setelah mendengar bunyi tubrukan tubuh ibu peminta-minta dengan body Ranger milik anak pejabat, dia mendengar percakapan singkat anak pejabat dengan dua orang lainnya. Anak pejabat itu mengeluarkan segepok lembar uang. “Kira-kira begitu.” Kata dia meyakinkan.

Zoro yang sejak awal ikut dalam persidangan kasus tersebut telah menduga si pelaku tidak akan dijatuhi hukuman berat seperti vonis untuk para pembunuh lainnya. Dengan bantuan dua saksi mata, sidang berlangsung datar tanpa penolakan dari pihak manapun terhadap vonis yang dijatuhkan hakim terhadap pelaku. “Pelaku dikenakan sanksi tahanan rumah selama satu tahun.” Bunyi palu tiga kali. Selesai!

Seratus meter dari lokasi pembunuhan, tempat Zoro berdiri, mobil Ranger yang menjadi saksi bisu hilangnya nyawa ibu peminta-minta terparkir gagah di halaman pusat hiburan di kota itu. Sayang tidak ada media yang meliput tahanan rumah itu masuk ke sana. Hanya Zoro seorang yang tetap mengintai, Darah tak bersalah ibu peminta-minta itu harus dibayar impas oleh si pelaku. Kata-kata itu yang membawa Zoro ke tempat ini. Dia membayangkan belakang punggungnya ada pistol berisi tiga peluru yang akan dia lesatkan masing-masing dada kiri kanan dan satu di kepala si anak pejabat. Zoro berjalan seperti orang masuk tempat hiburan biasanya. Menteng rokok pada tangan tangan dan tangan satunya dimasukkan ke saku depan. Tentu saja para penjaga tidak akan mencurigai Zoro sebab di sana siapa saja boleh masuk asalkan dompetmu tebal. Di Sudut ruang yang diterangi cahaya remang-remang khas tempat hiburan, ada sofa besar yang diisi para gadis penghibur dan seorang pria remaja akhir. Ditemani dua penjaga super ketat, si anak pejabat itu merasa diri manusia paling bebas dan aman untuk saat ini. Namun naas, dia tidak menyadari kehadiran Zoro yang sudah beberapa langkah mendekat untuk melesatkan tiga peluru terakhir di pistolnya. DORR,, DORR,, DORR, Misi selesai dendam dan keadilan sudah dibalas dan ditegakkan.

Rencana itu begitu mulus dalam pikiran Zoro. Tanpa hambatan berarti dia berhasil menegakkan keadilan setidaknya untuk ibu peminta-minta yang tewas di tempat ia berdiri sekarang. Persoalannya, di punggung Zoro tidak ada pistol, yang ada hanyalah pulpen dengan buku kecil tempat ia menulis informasi penting ketika meliput.

Betapapun seberapa mulus rencana yang terpikirkan di kepala Zoro tetap tidak akan berhasil tanpa kehadiran senjata utama: pistol. Menyadari waktu yang ia habiskan cuma-cuma di tkp ini sudah terlalu banyak apalagi tidak ada tindakan sama sekali, Zoro akhirnya memutuskan untuk balik dan memikirkan cara lain menghabiskan si anak pejabat itu dengan peralatan seadanya. “Masih ada hari esok, tunggu saja kau, bajingan!” Zoro membatin.

Di atas meja, Zoro yang sedari tadi mengotak-atik pulpen mulai berpikir akan ketajaman ujungnya. “Ya, akan kugorok leher bajingan itu dengan ujung pulpen ini,” Ucap Zoro sembari mengangkat pulpen hitamnya. Rencana itu sudah terpikir rapi oleh Zoro. Besok dia pura-pura melakukan wawancara informal dengan bajingan itu. Sesaat dia asyik berbicara pulpen ini akan melubangi lehernya yang sering berdusta. Sebanyak tiga tusuk paling tidak sudah membuatnya sulit untuk hidup kembali.

Pagi yang cerah buat Zoro yang sebentar lagi merasakan keadilan yang seadil-adilnya. Tayangan tv nasional pagi itu seketika meruntuhkan semua rencana mulus Zoro. Ya benar, media lokal maupun nasional ramai memberitakan kematian si anak pejabat yang dihujani tiga peluru. Satu di kepala. Dua lainnya masing-masing di dada kiri dan kanan. Gila! Itu rencana Zoro. “Harusnya aku bangsatt,,,,” Ucap Zoro mengumpat sambil bersumpah akan menemukan pemilik pistol itu.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY

Sejak lama menyukai sastra terutama menulis cerpen dan juga sangat sensitif terhadap isu sosial politik.

Artikel Lainnya: