Lepet: Makna, Filosofi, dan Cara Pembuatan

Lepet: Makna, Filosofi, dan Cara Pembuatan

Asal-Usul Lepet

Lepet adalah salah satu sajian khas dari pulau Jawa yang terbuat dari ketan dan kelapa parut, dibungkus dengan daun kelapa muda. Biasanya, sering kita temui pada hari-hari besar terutama pada saat lebaran. Namun, apakah kamu tahu dari mana asal usul nama dari makanan ini?

Sponsored links

Dikutip dari berbagai sumber di internet, nama ‘lepet’ berasal dari kata ‘silep’ yang berarti ‘kubur atau simpan’ dan ‘rapet’ yang berarti ‘rapat’. Hal ini mengacu pada cara pembungkusan lepet yang unik, dimana beras ketan dan isian lainnya dibalut erat dalam daun kelapa muda, mirip dengan proses ‘mengubur’ isiannya di dalam bungkusan.

Namun, dari beberapa sumber juga mengatakan bahwa kata ‘lepet’ berasal dari kata ‘lepat’ yang berarti ‘salah’ atau ‘kesalahan’ dalam bahasa Jawa. Hal tersebut sejalan dengan cara penyajiannya pada saat lebaran, di mana tradisi saling meminta maaf dan memaafkan menjadi bagian penting pada saat hari raya tersebut.

Sejarah lepet sendiri tidak bisa dilepaskan dari kisah Sunan Kalijaga, salah satu dari sembilan wali (Wali Songo) yang terkenal dengan cara dakwahnya yang unik. Dikisahkan, Sunan Kalijaga memperkenalkan lepet sebagai simbol dari ajaran Islam. Melalui lepet, beliau ingin mengajarkan tentang kesederhanaan, kerendahan hati (untuk memaafkan), dan kebersamaan.

Dalam perkembangannya, lepet tidak hanya terbatas pada satu jenis isian atau bahan saja. Berbagai daerah di Jawa, bahkan di luar Jawa, memiliki versi lepet mereka sendiri, menyesuaikan dengan bahan lokal yang tersedia.  Lepet tidak hanya sekedar makanan, tetapi juga sarana untuk mengingatkan akan pentingnya memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain. Esensi dari makna tersebut masih terjaga hingga saat ini.

Filosofi Lepet

Di balik kesederhanaan pembuatannya, lepet menyimpan filosofi mendalam yang telah turun-temurun diwariskan dalam budaya Jawa. Lepet bukan hanya sekadar makanan, namun juga sebagai wujud nyata dari nilai-nilai kebersamaan, kerendahan hati, dan kesederhanaan yang diajarkan oleh leluhur.

  • Beras ketan, dengan sifatnya yang melekat erat satu sama lain, mencerminkan kekuatan persahabatan dan ikatan yang tidak terpisahkan antar manusia.
  • Kelapa parut, lembut dan halus, merefleksikan kelembutan hati serta tata krama yang sejati, nilai yang sangat diutamakan selama perayaan Idul Fitri.
  • Garam, meskipun hanya sejumput, mampu memberikan keseimbangan rasa, serupa dengan pentingnya keseimbangan dalam hubungan sosial yang harmonis dalam komunitas.
  • Daun kelapa muda, atau janur, yang kata asalnya ‘jatining nur’ artinya cahaya hakiki, melambangkan kondisi spiritual manusia yang bersih usai melalui bulan suci Ramadhan. Proses memetik janur yang tidak mudah, melambangkan jerih payah dan dedikasi dalam mencapai kesucian.
  • Tali bambu yang digunakan untuk mengikat lepet, mengingatkan kita pada kekuatan komunitas. Seperti bambu yang tumbuh bersama dan kuat, tali ini mengikat kita dalam solidaritas dan persahabatan.

Filosofi lepet ini mengajarkan kita untuk menghargai dan memelihara nilai-nilai kekeluargaan, kebersamaan, serta kemurahan hati. Di tengah perubahan zaman, lepet tetap menjadi simbol yang kuat dari nilai-nilai tradisional yang tidak lekang oleh waktu.

Lepet Jagung

Bahan dan Cara Membuat Lepet

Membuat lepet ternyata tidak serumit yang dibayangkan. Dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan dan langkah-langkah pembuatan yang sederhana, kamu bisa mencoba membuatnya sendiri di rumah. Berikut ini bahan dan cara membuat lepet yang bisa kamu ikuti.

Bahan-bahan:

  • 500 gram beras ketan, rendam selama 3-4 jam agar lembut.
  • 200 gram kelapa parut kasar, usahakan segar untuk rasa yang lebih gurih.
  • 1 sendok teh garam, atau sesuai selera.
  • Daun kelapa muda (janur) untuk membungkus, jumlah sesuai kebutuhan.
  • Tali dari serat alami atau benang untuk mengikat.

Langkah Pembuatan:

  1. Pengukusan Beras Ketan: Setelah direndam, tiriskan beras ketan lalu kukus hingga setengah matang, sekitar 15-20 menit. Angkat dan dinginkan sebentar.
  2. Campur Bahan: Dalam wadah besar, campur beras ketan setengah matang dengan kelapa parut dan garam. Aduk rata sampai semua bahan tercampur dengan baik.
  3. Persiapan Daun Kelapa Muda: Siapkan daun kelapa muda, potong sesuai ukuran yang diinginkan. Biasanya berukuran sekitar 30×25 cm. Lipat dan bentuk seperti cone atau sarung.
  4. Membungkus: Ambil satu sendok penuh campuran beras ketan, masukkan ke dalam daun kelapa yang sudah dibentuk. Pastikan tidak terlalu penuh agar mudah ditutup dan diikat.
  5. Mengikat Lepet: Setelah diisi, lipat bagian atas daun kelapa dan ikat dengan tali. Pastikan ikatan cukup kuat agar tidak terbuka saat direbus.
  6. Perebusan: Rebus air dalam panci besar, masukkan lepet yang sudah diikat. Rebus selama 2-3 jam hingga matang. Pastikan air cukup banyak agar lepet terendam sepenuhnya.
  7. Penyajian: Setelah matang, angkat lepet dari air rebusan dan tiriskan. Lepet siap disajikan sebagai camilan atau pelengkap makanan utama.

Lepet, dengan rasa gurih dari kombinasi beras ketan dan kelapa parut, merupakan salah satu hidangan yang wajib dicoba. Proses pembuatannya yang sederhana membuat siapapun bisa mencoba membuatnya di rumah sebagai bagian dari upaya melestarikan kuliner tradisional Indonesia.

FAQ tentang Lepet

1. Apakah lepet bisa dibuat tanpa menggunakan daun kelapa muda? Ya, jika daun kelapa muda sulit ditemukan, kamu bisa menggunakan alternatif lain seperti daun pisang. Meskipun aroma yang dihasilkan mungkin sedikit berbeda, daun pisang tetap bisa menjadi pembungkus alternatif untuk lepet.

2. Berapa lama lepet dapat bertahan setelah dibuat? Lepet dapat bertahan hingga 2-3 hari jika disimpan di suhu ruangan. Untuk menjaga kelembapannya, simpan dalam wadah tertutup. Jika ingin lebih tahan lama, lepet bisa disimpan di dalam kulkas dan bertahan hingga satu minggu.

3. Apakah lepet selalu harus berisi beras ketan? Tidak selalu. Meski beras ketan adalah bahan utama yang paling umum, beberapa varian lepet menggunakan jagung atau bahkan ubi sebagai pengganti beras ketan. Variasi ini biasanya disesuaikan dengan selera atau ketersediaan bahan lokal.

4. Bisakah lepet dijadikan sebagai hidangan utama? Biasanya, lepet disajikan sebagai camilan atau pendamping hidangan utama. Namun, dengan tambahan isian seperti kacang hijau, jagung, atau bahkan daging, lepet bisa menjadi lebih mengenyangkan dan dijadikan sebagai hidangan utama yang unik.

5. Apakah ada tips khusus untuk membuat lepet agar tidak mudah hancur saat direbus? Pastikan untuk mengikat lepet dengan kuat dan pastikan air dalam panci mendidih sebelum menambahkan lepet. Rebus dengan api kecil hingga sedang agar lepet matang merata tanpa membuat bungkusnya terbuka. Menggunakan tali yang kuat dan tidak mudah putus juga sangat membantu.

SEO Expert and AI Enthusiast. Someone Who Loved Culinary Arts and Traveling.

Artikel Lainnya: