Sekolah Jam 5 Pagi, Pentingkah?

Sekolah Jam 5 Pagi, Pentingkah?

Kebijakan kontroversial Pemprov NTT perihal sekolah jam 5 pagi telah menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat. Betapa tidak, aturan tersebut muncul begitu saja ke hadapan publik tanpa adanya sosialisasi terlebih dahulu. Ketidaksiapan masyarakat, dalam konteks ini para murid dan orang tua, ditunjukan dengan berbagai penolakan yang didukung oleh fakta-fakta kuat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kepala Dinas P dan K, Linus Lusi, menerangkan terkait proses sosialisasi dilakukan seiring dengan pemberlakuan kebijakan ini. Dengan demikian, para peserta didik, orang tua dan mungkin juga pengajar melakukan sesuatu yang sebetulnya mereka tidak tahu pasti maksud serta tujuannya.

Sponsored links

Perintah itu pertama kali muncul dari mulut Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat saat kunjungannya beberapa pekan lalu ke Dinas P dan K. Arahan atasan tersebut langsung dieksekusi sang kadis dan munculah kebijakan yang mereka nilai adalah suatu langkah kemajuan bagi pendidikan di bumi Flobamora. Tujuan mulia dari program ini adalah terbentuknya karakter siswa yang disiplin, etos kerja tinggi, rajin, dan lain sebagainya. Bahkan dalam satu kesempatan Kadis P dan K mencontohkan ibu-ibu di pasar yang mulai beraktifitas jam 3 pagi. Menurut beliau adalah suatu kemunduran ketika jam sekolah seperti biasanya semantara ibu-ibu di pasar lebih dulu beraktifitas. Membandingkan kedua realita ini untuk kemajuan pendidikan di NTT adalah kesesatan logika. Christin Malehere, pengamat pendidikan Undana pun mengatakan hal serupa. Dilansir dari Pos Kupang (28/02/23/), kadis P dan K terkesan kurang paham akan arahan bapak gubernur. Cara mendisiplinkan anak tidak harus dengan program masuk sekolah jam 5 pagi.

Hal lain yang perlu disorot ialah soal perkembangan siswa. Dengan ditetapkannya sekolah jam 5 pagi, para siswa minimal bangun satu jam sebelumnya. Selain waktu istirahat yang berkurang, konsentrasi dan semangat belajar peserta didik pun menurun. Penelitian yang pernah dilakukan di singapura justru berbanding terbalik dengan program ini. sebanyak 3000-an anak remaja yang diteliti ditemukan mengalami perkembangan yang baik dalam pembelajaran Ketika memiliki waktu istirahat yang cukup. Dilansir dari Kompas.com (13/03/18), pada masa itu jam sekolah di singapura bergeser dari 7.30 menjadi 8.30. kemajuan pendidikan bukan ditentukan oleh cepat jadwal sekolah tetapi membawa suasana kondusif bagi siswa untuk belajar. Semakin dipaksa suatu kondisi dilakukan maka niat belajarnya pun tidak akan terpenuhi.

Imbas lain dari program sekolah jam 5 pagi ini adalah waktu istirahat orang tua semakin berkurang. Karena anak bangun sejam sebelum jam 5 itu artinya orang tua bangun sejam sebelum anak bangun untuk menyiapkan sarapan ataupun bekal. Orang tua yang tidur paling terakhir di rumah akan bangun paling awal sekadar melayani anak untuk sekolah jam 5. Jelas bahwa program ini bukan suatu kemajuan dalam dunia Pendidikan di NTT justru suatu kemunduran yang serius. Pendidikan progresif mesti mempertimbangkan berbagai aspek yang terkandung di dalamnya, termasuk kondisi orang tua siswa. Kehadiran para siswa pada jam 5 pagi setiap harinya tidak akan berbuah manis apabila kondisi orang tua tidak baik-baik saja. Program ini layak dipertimbangkan kembali.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY

Sejak lama menyukai sastra terutama menulis cerpen dan juga sangat sensitif terhadap isu sosial politik.

Artikel Lainnya: