Alun-Alun Kidul: Tempat Berkumpulnya Warna-Warni Yogyakarta

Alun-Alun Kidul: Tempat Berkumpulnya Warna-Warni Yogyakarta

Alun-Alun Kidul, sebuah destinasi wisata yang terletak di pusat kota Yogyakarta. Nama “Kidul” yang berasal dari bahasa Jawa yang berarti “selatan”, hal ini mengacu pada posisi alun-alun yang berada di bagian selatan Kraton Kasultanan Yogyakarta. Menjadi salah satu destinasi unggulan kota Yogyakarta, Alun-Alun Kidul banyak diminati wisatawan dari berbagai kalangan. Salah satu daya tarik yang paling berpengaruh ialah suasananya di malam hari. Di mana terdapat banyak “odong-odong” dengan berbagai variasinya. Dari kejauhan, pengunjung dapat menikmati keindahan gemerlap lampu odong-odong tersebut dengan duduk di tengah lapangan sembari berbincang dengan rekannya.

Sponsored links

Alun-Alun Kidul : Warna-Warni Yogyakarta

Di tengah apiknya suasana Alun-Alun Kidul malam hari, siapa sangka Alun-Alun Kidul pagi juga ramai akan pengunjung. Semarak warga kota Yogyakarta menyambut hangatnya mentari pagi menghiasi penampakan Alun-Alun Kidul di pagi hari. Namun, dibalik ramainya pengunjung, terdapat banyak cerita di dalamnya yang menggambarkan warna-warni Yogyakarta. Kira-kira apa saja? Lebih lengkapnya simak tulisan di bawah ini.

Merajut Asmara

Seiringan dengan sang surya yang menyinari semesta dan menghasilkan semburat jingga pada arunika dengan indahnya. Banyak pasang kekasih yang juga merajut asmara dengan menikmati hangatnya sinar fajar di Alun-Alun Kidul. Suka dan duka yang memang semestinya dilalui berdua. Alun-Alun Kidul menjadi saksi bisu berbagai kisah perjuangan para sejoli ini.

Merajut Asmara di Alun-Alun Selatan

Menghabiskan waktu berdua ialah hal terindah yang dirasakan oleh sepasang kekasih. Membuatnya merassa seakan dunia hanya milik berdua sahaja. Hampir tidak menghiraukan siapapun yang ada di sektarnya. Namun, bagaimana jika keadaan mengharuskan mereka untuk tetap menghiraukan kanan kiri mereka? Jawabannya dapat diemukan di Alun-Alun Kidul. Tidak hanya sekedar berjalan-jalan, di sini banyak didapati sepasang kekasih yang berjualan suatu produk. Selain itu, ada pula yang memang datang untuk berolahraga namun ditemani oleh pasangannya.

Kami Melayani, Tersenyum, Tertawa, Bercengkrama, Menanti, dan Berharap

Melakoni profesi sebagai pedagang bukanlah hal yang mudah. Keahlian memasak atau membuat produk untuk dijual saja tidak cukup. Sebagai seorang pedagang, kemampuan berkomunikasi juga merupakan kunci. Bagaimana pedagang bisa melayani pembeli dengan baik juga harus diperhatikan. Pelayanan yang baik adalah pelayanan yang dapat membuat pembeli merasa nyaman membeli suatu produk di sana.

Menjadi seorang pedagang, secara tidak langsung juga menjadi seorang aktor di saat yang bersamaan. Kemampuan untuk mengendalikan emosi dan menyembunyikan masalah kehidupan dari pandangan pelanggan merupakan hak yang tidak mudah untuk dilakukan. Bekerja secara profesional tidak hanya dirasakan oleh para pekerja kantoran.

Kami Melayani di Alun-Alun Selatan

Penantian berharga yang dialami oleh para pedagang juga merupakan penampakan jerih payah mereka dalam melakoni profesi ini. Menunggu adanya pelanggan yang tertarik dengan produk yang mereka jual kemudian menawarkannya. Alih-alih datang membelinya, tidak sedikit orang yang datang menunjukkan ketertarikan namun tak jadi membelinya.

Saat ditanya mengapa berdagang disini, rata-raya jawaban mereka begitu sederhana dan menyentuh hati. “Selain untuk kegiatan, ini juga merupakan hal terbaik yang bisa dilakukan untuk keluarga. Selain itu, dengan melihat ramainya pengunjung dengan raut bahagia di wajahnya, itu adalah hal yang ingin kami lihat. Terkadang, kami juga merasa minder akan beberapa dari mereka. Namun, kami percaya setiap orang sudah ada rezekinya masing-masing.” Bu Sri (42 tahun). Oh tuhan, berikanlah mereka rezeki yang berlimpah adanya agar dapat terus menghiasi sudut-sudut Alun-Alun Kidul yang indah ini.

Hanya Ini Yang Sanggup Dikerjakan

Tua dan Rentan – Salah satu dari banyaknya hal yang tidak bisa dihindari oleh manusia adalah penuaan. Setiap manusia pasti akan mengalami masa penuaan. Masa di mana fungsi-fungsi organ tubuh perlahan mulai melemah satu per satu. Di masa ini juga, sudah sewajarnya apabila setiap orang ingin lebih banyak beristirahat dan mendekatkan diri secara spiritual kepada sang pencipta. Namun, hal ini tidak ditampakkan oleh beberapa lansia yang berada di area Alun-Alun Kidul. Semangat bekerja yang bercampur dengan ekspresi pasrah tampak jelas di raut wajah keriput mereka. Kerasnya hidup menuntut mereka untuk daoat terus beraktifitas secara produktif, sama dengan masyarakat pada umumnya. Tidak sedikit dsri mereka yang mengaku bahwa ini juga merupakan bentuk  wujud mengisi kegiatan mereka sehari-hari. “Ibarat sepeda onthel yang sudah berkarat, akan lebih celat usang apabila tidak pernah digunakan.” Mbah Muji (73 tahun).

Hanya Ini Yang Kita Lakukan di Alun-Alun Selatan

Tukang parkir dan tukang becak merupakan sedikit dari banyak pekerjaan yang sering dipandang rendah. Imbuhan kata “tukang” di depannya seakan memperjelas bahwa pekerjaan ini bukanlah jenis pekerjaan yang ada di kasta atas. Panas terik matahari diiringi debgan debu dan polusi tidam menghambat mereka untuk melakoni pekerjaan ini. Tentu saja, mereka ingin mendapatkan pekerjaan yang kebih baik. Tidak perlu repot teriak-teriak, panas-panasan, dan mengekuarkan banyak tenaga.

Tukang Becak Alun-Alun Selatan

Namun, siapa sangka dibalik dipandang rendahnya pekerjaan ini, tidak sedikit dari mereka yang bangga dan gemar melakoni profesi ini. “Selain karena memang sudah nasib dan tidak punya ijazah memumpuni, mulanya pekerjaan ini kami lakoni karena keterpaksaan untuk mencukuoi kebutuhan keluarga. Namun, lama-kelamaan ternyata tidak ada buruknya juga. Selain untuk melestarikan budaya, pekerjaan kami tidak merugikan orang lain. Justru kami malah membantu mereka, baik itu saya (tukang becak), maupun tukang parkir. Kami rasa pekerjaan kami lebih suci dari pada para pejabat-pejabat itu.” Pak Tri (56 tahun).

Quality Time

Quality Time di Alun-Alun Selatan

Tuntutan duniawi yang mana tentunya dirasakan oleh semua orang, akan memberi tekanan untuk dapat me-refresh pikiran. Dunia dengan kesibukannya, menuntun kita untuk ikut disibukkan pula dalam rangka memenuhi kehidupan. Sebagai salah satu destinasi wisata, Alun-Alun Kidul kerap menjadi pilihan banyak orang untuk dapat menghabiskan waktu dengan keluarga dan temannya. Di tengah-tengah kepadatan yang terus menghantui, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, Alun-Alun Kidul dapat menjadi alternatif tempat untuk berkumpul dan berbagi cerita. Lokasinya yang berada tidak terlalu jauh dari pusat kota juga dinilai strategis untuk dapat menghabiskan waktu bersama tanpa harus jauh-jauh rekreasi ke daerah lain seperti pantai atau gunung.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY

Memiliki ketertarikan dalam dunia pariwisata, olah raga, dan sosial politik. Masyarakat luas juga berhak mengetahui serta berekspresi dalam hal tersebut.

Artikel Lainnya: