Pengakuan Yusman

Pengakuan Yusman

Kursi goyang Yusman bergerak entah beberapa jam lamanya. Teh panas yang penuh uap ketika diantar Naning pun telah dingin. Untung saja Yusman telah menghabiskan setengah teh itu sebelum uapnya menghilang. Keberadaan Hery di samping kursi goyang itu sedikitpun tak dihiraukan Yusman. Hery sibuk dengan alam pikirannya sendiri dengan kursi goyang lain. Tapi bedanya, kopi itam Hery lebih dulu habis. Mereka membisu setelah beberapa jam bertengkar.

Sponsored links

Yusman mengalah, lalu mengawali percakapan, tepatnya pertengkaran berikutnya, dengan mengajak Hery ikut mendukung project barunya. Project yang menurut Yusman akan meningkatkan popularitas dia sebagai wartawan senior. Di mata Yusman tidak ada kesempatan lain selain project ini agar namanya sebagai wartawan senior diakui banyak orang. “Her, kamu harus ngerti, project ini belum pernah digarap oleh wartawan lain,” kata Yusman meyakinkan. “jadi, tolonglah.” Yusman sendiri berharap penuh, Hery sebagai saudaranya mendukung project besar ini. Bukan karena apa-apa, tapi karena dia dan anak pamannya itu adalah saksi, pelaku, sekaligus korban dalam peristiwa masa lalu.

Hery yang sedari tadi mencoba mengerti dengan usulan kakaknya itu, beranjak bangun dari kursi goyangnya. Sebagai sesama wartawan, tentu saja Hery tahu betul besarnya keinginan Yusman untuk dikenal sebagai salah satu wartawan paling berpengaruh di republik ini. Namun, Hery juga memiliki Hasrat sebagai wartawan, sama seperti Yusman. Hery mengawali ketidaksetujuannya atas project tersebut dengan janji mereka terhadap ayah Yusman. Ya, mereka telah berjanji bahwa kelak kejadian ini tidak akan dibicarakan lagi oleh orang lain. Hery takut kalau di kemudian hari potongan cerita ini muncul akan berimbas bukan hanya pada keluarga saja tetapi warga desa secara keseluruhan. “Mereka di sana tidak tahu menahu soal ini, kaka!” Tegas Hery perihal warga desa.

Mata keduanya tajam, memandang jauh ke depan. Melihat apa, entah. Hery, sembari menggenggam pangkuan kursi dengan tangan kiri, mengatakan bahwa dia bukannya enggan mendukung Yusman untuk menjadi wartawan senior terkenal seantero negeri. Kecemasan Hery lebih besar ketimbang gairah mendukung Yusman. Bagi Hery, siapa yang kelak bertanggung jawab manakala project ini di buat, yang pasti desa akan diserbu oleh berbagai pertanyaan dan mungkin nanti beberapa pihak akan meminta pertanggungjawaban. Semantara generasi sekarang yang mendiami desa tidak pernah disuguhkan cerita-cerita itu. Kepada Yusman, dia meyakinkan bahwa ide kakaknya itu sangat rentan terhadap keselamatan warga desa. “kaka tau to, cuma keluarga kita, setidaknya kita berdua, yang punya cerita ini.”

Suasana pagi itu tak pernah diinginkan oleh keduanya. Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya,di mana Yusman dan Hery hampir pasti menghabiskan teh dan kopi di waktu yang bersamaan. Di tengah seruputuan ngeteh dan ngopi keduanya bernostalgia ke zaman mereka remaja dulu. Kedua saudara itu bercerita cara orang tua mereka mendidik anak dengan sangat keras. Karakter ayah Yusman yang begitu keras tentu saja sama dengan sang adik, ayah Hery. Seorang ayah yang memiliki karakter kuat dan keras tentu diikuti ambisi yang besar pula. Ambisi besar ayah Yusman sangat terlihat ketika beliau sangat ingin menjadi orang nomor satu di desa. Maka, segala cara ia lakukan, dengan bantuan sang adik, untuk memberi pengaruh besar terhadap warga desa. Bahkan dulu kata seorang teman ayah Yusman, ayah Yusman pernah menjadi calon tunggal kepala desa di desanya. Keberadaan calon tunggal tersebut lantaran bukan karena tidak ada yang berminat maju menjadi calon tetapi takut dibasmi keluarga besar Yusman kala itu. Ancaman itu telah menyebar jauh-jauh hari sebelum hari pencoblosan.

Ambisi besar ayah Yusman kala itu sangat didukung oleh suasana politik nasional yang sedang memanas. Yusman remaja masa itu masih ingat baik pergolakan politik nasional akibat terbunuhnya beberapa jenderal dan tentara sekaligus. Sekitar dua tiga hari setelahnya muncul kabar bahwa orang-orang komunis adalah musuh negara. Karena musuh negara maka mereka adalah musuh bersama. Alhasil, besok pagi-nya beberapa orang dengan pakaian resmi yang mengaku diri mereka sebagai utusan pemerintah, bertamu ke rumah. Warga sekitar ketika mendengar informasi bahwa orang-orang ini utusan pemerintah, merasa wajar dan bukan hal aneh. Toh ayah Yusman adalah orang nomor satu di sana. Dalam penglihatan Yusman, pembicaraan mereka terlihat alot dan serius dibanding situasi ketika utusan kabupaten datang bertamu. Dalam pikiran Yusman ekspresi tersebut sangatlah wajar mengingat pergolakan perpolitikan dalam negeri juga sedang serius-seriusnya. “Saya tidak mendengar isi percakapan mereka tapi sebelum saya mengunjungi Aling sore itu, mereka berjabatan tangan tanda sepakat,” kenang Yusman.

Bagi Yusman remaja, kunjungan kala itu tidak ubahnya dengan kunjungan-kunjungan lain sebelumnya. Namun, siapa sangka obrolan yang harusnya Yusman dengar sore itu, menjadi petaka di satu sisi tapi keberuntungan di lain sisi. Masih segar dalam ingatan Yusman ketika sore itu dia diam-diam mengunjungi Aling. Kedua sejoli itu telah menjalin hubungan terlarang selama dua tahun. Aling yang berasal dari keluarga keturunan cina tentu saja menerima penolakan keras dari orang ketika tahu berpacaran dengan dengan Yusman. “yang tidak setuju itu orang tuaku, bukan aku,” ucap Aling meyakinkan Yusman.

Tidak seperti biasanya, pemandangan dan suasana toko besar depan rumah Aling tampak sepi. Toko yang harus buka seperti hari kerja lainnya tidak menunjukan tanda-tanda akan beraktifitas. Pikir Yusman barangkali keluarga Aling hendak meliburkan Sebagian besar pegawainya. Toh keuntungan maksimal sudah dicapai, gumamnya dalam hati. Dari belakang tiba-tiba Yusma diserang dengan suatu pelukan erat yang kemudian Yusman menyadari bahwa kekasihnya Aling telah tiba. Wajah riang Yusman seketika berubah datar ketika mendapati Aling memeluknya dengan mata yang berair. Sontak Yusman menanyai perihal air mata itu. Sambil menangis, dengan suara terbatah-batah Aling menjelaskan kondisi keluarganya dalam bahaya. Bapak dan ibu Aling sedari malam memikirkan cara untuk keluar dari desa ini. Melarikan diri! “kami dituduh komunis!” jelas Aling.

Yusman tak tinggal diam. Dengan kekuasaan yang dimiliki ayahnya, dia meyakinkan Aling bahwa tidak ada penyusup yang akan datang menyergap warga desa. Keyakinan yang beralasan sebab ayah Yusman bukan hanya sebatas ambisius untuk menjadi orang nomor satu di desa tetapi juga tegas dan bertanggungjawab terhadap kebutuhan warga desa. Selama ayah Yusman menjabat, tidak pernah ada keluhan soal keamanan di desa tersebut. Hampir semua sektor aman tanpa gangguan. Atas dasar itu Yusman menjamin keamanan Aling serta keluarga dari sergapan orang luar. “Bapak sudah menghubungi keamanan untuk menjaga.”

Sepulang memenuhi kewajiban sebagai seorang pacar, Yusman kembali ke rumah. Diiringi lantunan adzan magrib Yusman memasuki rumah dengan suasana yang sangat lain. Depan pintu utama rusak telah menyala obor-obor dengan tinggi setengah meter. Yusman terus menyusuri rumah yang sekarang agak asing itu, dan mendapati di ruang tengah telah dipadati oleh beberapa warga dengan kain merah putih terikat di kepala. Rasa penasaran Yusman makin menjadi-jadi atas semua keasingan di depan matanya. Kepada ayah yang malam itu memimpin gerakan, Yusman bertanya kegiatan apa yang yang mereka lakukan. Bapak Yusman dengan enteng menjawab bahwa situasi desa dalam keadaan darurat. Beliau menjelaskan desa ini sudah kemasukan pengaruh anti nasionalis maka harus diberantas sekarang juga. Kalau tidak warga desa akan dianggap mengkhianati negara.

Keberangkatan para warga dari rumah menyisakan rasa penasaran yang bahkan jauh lebih besar dari sebelumnya bagi Yusman. Dalam pengamatan Yusman kehidupan warga desa tidak ada bedanya dengan tahun-tahun lalu. Lantas, siapa pengkhianat itu? Seketika ingatan Yusman terlempar jauh ke pengaduan Aling siang tadi.

Riuh burung Hantu dan kelelawar yang biasa terdengar malam itu tak berhasil menyaingi teriak warga desa menuntun keluarga Aling dihukum mati. “pengkhianat negara, bunuh saja!” teriak mereka kencang. Semntara di tengah kerumunan warga sepasang suami istri beserta anaknya sedang ketakutan melihat kemarahan warga desa. Ketiganya tak mampu berbuat banyak sebab tangan dan kaki mereka telah diikat. Yang ada hanyalah pasrah pada takdir dan Tuhan. Di luar lingkaran kemarahan itu, seorang lelaki remaja berdiri mematung dengan tatapan kosong. Yusman sampai titik itu tidak mampu berbuat apa-apa. Dia benar-benar kehilangan akal untuk bertindak sedikit pun. Matanya terus menangkap ketakutan Aling malam itu. Keinginan untuk membantu terlalu kecil buat Yusman dibanding ketakutan melawan warga desa.

Sampai saat Aling ditarik warga menuju ritual penghabisan, Yusman masih enggan berbuat sesuatu apapun. Aling menatap dengan penuh harap bahwa keberadaan Yusman di tengah kerumunan ini akan mengakhiri penderitaan dia dan orang tuanya. Bahkan ketika kepala Aling menyentuh tanah untuk dieksekusi, sepasang bola mata Yusman masih menatap kosong.

Cerita Aling akan terus menghantui Yusman ke mana pun dia melangkah. Bersama Hery, Yusman tak henti mencari cara mengeluarkan memori kelam itu dalam ingatan hidupnya. Beberapa tahun Yusman menunggu ketika muncul ide Hery untuk menulis semua tragedy tersebut menjadi satu kisah tragis peninggalan orde baru. Ya, ide itu berhasil bahkan menghasilkan suatu karya yang akan melejitkan nama Yusman sendiri sebagai wartawan senior.

Dan hari ini, Aling muncul kembali dalam hidup Yusman….

Baca Juga: Koran Nainggolan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY

Sejak lama menyukai sastra terutama menulis cerpen dan juga sangat sensitif terhadap isu sosial politik.

Artikel Lainnya: